Sabtu, 20 Desember 2008

menghapus mendung...

Jadi apa yang mesti kau takutkan, dalam keremangan kau mencari ketakutanmu sendiri. Saudaraku, kau akan buas dengan jalan hidupmu, mau bagaimana lagi.. karna memang sudah garis nasibmu. Mulutmu berbicara mengenai usaha. Usahanya pasti tetap saja sejalan dengan yang ditulisnya.


Kita terjebak, kita telah tertipu oleh nalar kita sendiri. Segala pengetahuan kita bagaimanapun besarnya takkan pernah sanggup mewakili keseluruhan objeknya. Yang kita bawa hanya sebatas bongkahan dari sebuah bangunan yang coba untuk kita gambarkan. Oleh karna kita terbatas pada indra.. ketika nalar berhasil menangkap sebagian makna akan tetapi mulut justru tertatih mencoba mengungkapkannya. Meski Bukan, mulut yang kita tuju namun tranformasi nyatalah yang mesti diacu dan diwujudkan. Yang sejalan dengan kemanusiaan. Dan Tetap saja setiap kemanusian harus berangkat dari kesadaran yang mendalam. Yang fundamental. Karna bagaimanapun kemanusiaan itu terbangun. Kemanapun dia jauh melangkah bila tak disertai dengan kedalaman yang kokoh hanya akan menunggu terkaparnya saja.


Kita tak akan bijak dengan bertopang menanti datangnya hikmah yang akan menyapa. Pelajaran yang didasari atas sisi historis adalah landasan yang cenderung tertinggal bila kita memandangnya dari sisi yang rabun. Cobalah tengok bahwa dengan bekal yang ada (hikmah yang didapat), kita bisa melangkah kedepan dengan disertai potensi akal untuk mencapai tujuan dengan perhitungan dan pertimbangan yang matang.


Namun kau akan lebih menyalak dalam mencaciku saat kau temukan bahwa aplikasinya tak seindah teori yang kau muka ini. Tentu hal semacam ini tak berlaku bila kau terlebih dahulu menyadarinya. Begitu banyak mulut yang membunga. Begitu ragam sastra yang tersaji dan perjalanan manusia terus akan membenahi atau justru mengotorinya. Lalu mau apa? Tugas kita hanyalah memuaskan nurani. Karna nurani akan merengek jika kau sembarangan buang kotoran dijalanan. Terkesan remeh tapi cukup menyengat dan lumrah untuk kau jadikan sebagai dalih kibaran bendera putihmu. Dan kau tak akan pernah memilih untuk pengecut.


Aku sudah cukup berkeluh-kesah, kobaran api dihadapanku tak mengizinkanku untuk lama mencurahkan segala risau dan airmata. Untuk saudaraku satu ayah satu ibu.. aku menyayangimu. Walau ekspresi bentuk kasih sayangku akan kau dapati berbeda dengan yang kau harapkan. Kita laki-laki dan akan berjuang bersama-sama dengan jalan yang berbeda. Jangan berpikir bahwa kakimu harus menapak pada istana. akan lebih baik bila kau sesuaikan langkah kaki dengan harapan segenap jiwa yang mencintaimu, baik-baiklah melangkah kelak pasti kita akan sampai pada kebahagiaan sejati yang mungkin samar untuk kita kita rasakan namun begitu damai membelai manja kehidupan.

Gamang?!!

serupa nestapa dalam malam sejenak yang sanggup membunuh kematu yang bersolek dihadapan cermin...
keledai itu kita saat linglung untuk apa gerangan kehidupan dijalankan..
atas dasar apa kehidupan mengontrol dirinya sendiri
apa bukan kecongkakan nalar mabuk tertipu matanya sendiri

hingga siuman dari rabun pengetahuan..
raga nyatanya pincang menjejaki jauh perjalanan dunia dalam pendek usia

padahal pada nalar sinis disematkan
sedang bundadan bapa terlanjur kita pusarakan
ragunya memahkota
ketidakpastian menggulitakan benderang
kemanusiaan jadi pengap
laju pikir
desah nafas
bagai musafir singgah menjasmani
jadi basi
kepastian menghendaki pergi.....

lalu...

siapa itu yang mendiriku dan memenggal liar deru nafsu..
gerangan apa mematuk habis besar kepala..
ugh..!

bergelimang kesadaran akan fana..
hendak kemana keberadaanku
sampai hati mesti pedih air surga...

bukan lantaran tak berkaki kecemasan tak bisa lari
liat itu bapa yang mati
pergi meninggalkan raga dan ia sendiri entah kemana...
jadi kemana aku??
bila bumi adalah tujuan jasadku.............